Kebahagiaan dan Faktor - Faktor Eksternal: Uang dan Iklim


Bila Anda tengah berencana untuk berbahagia, tentu ada faktor-faktor di luar diri kita sendiri yang perlu diketahui demi membantu tercapainya kebahagiaan. Sebelum gerakan psikologi positif merebak pada awal millenium ini, ternyata sudah ada beberapa riset serius tentang kebahagiaan. Sayangnya riset-riset ini kemudian terhenti pada tahun 1967.

Seligman dalam Authentic Happiness merangkum dan membeberkan peran faktor-faktor yang dianggap memiliki hubungan dengan kebahagiaan dan akurasi hubungan tersebut. Faktor-faktor hasil penelitian lawas tadi  adalah: penghasilan yang bagus (baca: uang), menikah, muda, sehat, berpendidikan tinggi dan relijius. Satu catatan penting, tingkat kecerdasan sejak dulu dianggap tidak memiliki hubungan dengan kebahagiaan. Tak heran, hingga kini belum ada penelitian yang mencoba meneliti kembali hubungan langsung antara kebahagiaan dengan kecerdasan.

Ternyata, tidak semua faktor yang disebut di atas terbukti memiliki hubungan dengan kebahagiaan. Uang misalnya. Perekonomian suatu negara yang diukur dengan indeks GNP (Gross National Product) sekilas memiliki hubungan erat dengan tingkat kepuasan hidup (life satisfaction index). Artinya, semakin maju sebuah negara, warganya akan merasa lebih bahagia. Namun begitu  pendapatan sebuah negara menyentuh angka $8.000 per kapita, korelasi tersebut justru menghilang. Kekayaan yang bertambah tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan yang dirasakan.

Warga Swiss memang lebih berbahagia dibandingkan dengan Bulgaria yang lebih miskin. Tapi kecenderungan ini justru tidak berlaku untuk Jepang yang notabene termasuk negara kaya. Daya beli warga Amerika Serikat, Perancis dan Jepang selama 50 tahun terakhir telah naik dua kali lipat, tetapi tidak demikian halnya dengan kepuasan hidup yang mereka rasakan. Ternyata berlaku the law of diminishing return untuk hubungan antara uang dan kebahagiaan. Sampai di titik tertentu, uang dapat membuat orang lebih bahagia. Namun tambahan uang tidak berarti tambahan untuk rasa bahagia yang dimiliki.

Perihal hubungan uang dan kebahagiaan ternyata terkait dengan iklim. Saya ingat, beberapa sahabat sempat membahas mengenai hubungan kebahagiaan dengan iklim via Facebook. Tidak ada keraguan samasekali bahwa cuaca secara umum yang dikenal dengan istilah iklim mempengaruhi fisik dan psikis manusia. Namun apa kaitan iklim dengan kebahagiaan?

Fischer & Vlient menuliskan hasil penelitian mereka dalam artikel berjudul Does Climate Undermine Subjective Well-being? A 58 Nations Study yang dimuat dalam Personality & Social Psychology Bulletin tahun 2011. Iklim yang cenderung ekstrim, lebih panas atau lebih dingin, akan menyulitkan individu  memelihara suhu tubuh normal di angka 37 derajat Celcius. Namun sumberdaya ekonomi (baca: uang) yang mencukupi akan membuat individu mampu memenuhi tuntutan fisik dan mendapatkan cukup tantangan untuk pengembangan dirinya. Sebaliknya, tuntutan iklim ekstrim yang harus dihadapi di tengah kekurangan sumberdaya ekonomi akan meningkatkan tekanan hidup. Ujung-ujungnya, muncul masalah kesehatan, kelelahan, kecemasan dan bahkan depresi.

Hubungan lagsung antara iklim dengan kebahagiaan cenderung tidak terbukti karena tingkat kebahagiaan bervariasi tanpa memandang perbedaan iklim. Namun ada beberapa faktor antara, seperti sumberdaya ekonomi tadi, yang dapat menentukan tingkat kebahagiaan mereka yang tinggal di negara dengan iklim yang ekstrim. Memang terdapat kasus yang muncul secara musiman, misalnya depresi yang terasa hanya pada musim salju (winter depression) yang kemudian memicu gelombang migrasi sementara warga di negara yang mengalami musim dingin ke negara-negara yang lebih hangat.  Namun secara umum tubuh dan jiwa manusia relatif mampu beradaptasi dengan iklim tempat tinggalnya.


Mereka yang Berbahagia



Seperti apa orang yang berbahagia? Apa ciri-ciri yang mereka miliki?Sebuah penelitian awal yang membandingkan orang-orang yang berbahagia dengan yang tidak pernah dilakukan Diener dan Seligman pada tahun 2002. Hasilnya ditulis dalam Psychological Science dengan tajuk 'Very Happy People'.

Ternyata orang yang berbahagia adalah mereka yang lebih suka bergaul, punya hubungan sosial dan hubungan cinta yang kuat, lebih terbuka dan beorientasi pada orang lain. Selain itu, kebahagiaan juga membuat mereka lebih senang membantu, ramah, pemaaf dan penyayang.

Orang yang bahagia bukan mereka yang pencemas dan biasanya memiliki skor yang rendah dalam tes yang mengukur gangguan psikis. Tes macam ini bisa bermacam-macam, salah satunya adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) yang sering digunakan psikiater untuk mengidentifikasi gangguan jiwa. Jadi, kebahagiaan ditandai dengan ketiadaan gangguan jiwa. 

Bila digali lebih lanjut, ternyata tidak ada penyebab tunggal bagi  kebahagiaan seseorang. Namun mereka yang berbahagia umumnya memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Mereka seringkali memiliki emosi yang positif, tetapi tidak berlebihan. Kadang mereka juga mengalami emosi negatif, menunjukkan bahwa orang yang berbahagia  mampu bereaksi secara wajar terhadap peristiwa yang dihadapi dalam hidup. Kehilangan akan memicu kesedihan. Bahaya dan ancaman akan menimbulkan rasa takut. Harapan yang terpenuhi akan membuahkan rasa senang.

Namun yang masih jadi misteri adalah hubungan sebab akibat dari kebahagiaan. Apakah memiliki banyak teman menjadikan seseorang bahagia, atau sebaliknya, seseorang yang berbahagia akan menarik banyak teman? Ada beberapa penelitian lanjutan yang berusaha menjawab pertanyaan ini. Apalagi penelitian ini masih merupakan upaya awal menggali karakteristik orang yang berbahagia.

Apakah Anda termasuk mereka yang berbahagia? Mudah-mudahan ya. Bila belum, mungkin kebahagiaan bisa dimulai dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan Anda dengan orang lain.

Salam kebahagiaan...

Tentang Kebahagiaan

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab dalam blog ini adalah apakah kebahagiaan (happiness) itu? Banyak pihak yang pernah melakukan eksplikasi terhadap konsep kebahagiaan. Sejak zaman Yunani, kebahagiaan sudah menjadi obyek studi para filsuf dan akademisi. Sampai hari ini pun konsep kebahagiaan masih menyisakan misteri dan belum akan jadi basi. Beberapa pemikiran tentang kebahagiaan akan dikutip dan dibahas dalam tulisan serial dalam blog ini.

Secara pribadi saya sangat tertarik mengangkat konsep kebahagiaan menurut Abu Hamid al – Ghazali (1058 – 1128), seorang filsuf Islam yang banyak menulis tentang kebahagiaan. Konsep ini terutama tertuang dalam bukunya The Alchemy of Happiness yang merupakan versi pendek dari karya monumental berjudul Revival of the Religious Sciences

Menurut al – Ghazali, kebahagiaan bersifat spiritual. Manusia lahir dengan ‘rasa sakit dalam jiwa’ yang bersifat bawaan. Ada sesuatu yang hilang dan harus dicari jawabnya dalam titik – titik perjalanan hidup. Karena rasa sakit inilah kita terus mencari kebahagiaan. Beberapa orang mencarinya dalam kesenangan fisik seperti makan enak, minum nikmat dan tidur nyenyak. Beberapa menemukannya pada pencarian ilmu pengetahuan dan imajinasi yang tertuang dalam karya.

Namun rasa sakit yang dirasakan sebenarnya merupakan sebentuk tanya spiritual yang harus dijawab juga dalam jawab spiritual. Manusia membutuhkan makna dan rasa sebagai bagian dari semesta alam raya. Kebahagiaan yang tertinggi adalah kebahagiaan karena terhubung dengan Tuhan. Rasa bahagia ditemukan pada pencarian akan kebenaran. Dan kebenaran yang hakiki hanya didapat dari Zat yang Maha Benar.    

Orang yang paling bahagia menurut al – Ghazali adalah orang memahami dirinya sendiri (self – knowledge). Diri terdiri dari 2 (dua), yaitu: jasad dan ruh. Memahami diri sendiri berarti mengetahui bahwa tidak hanya kebutuhan lahir saja yang harus dipenuhi. Kebutuhan batin untuk memperkaya ruh juga diperlukan untuk mendapatkan hidup yang bahagia. Seperti tubuh, jiwa juga harus dipelihara dan dibersihkan dari nafsu dan keinginan yang membuat ‘cermin hati’ menjadi kotor dan buram.   


Sampai disini, konsep kebahagiaan seakan terbagi menjadi 2 (dua); duniawi – akhirati, lahir – batin; jasad – ruh; fisik – metafisik. Polaritas ini akan cenderung terlihat dalam perkembangan studi tentang kebahagiaan kontemporer yang secara umum membelah kebahagiaan menjadi 2 (dua), yaitu hedonisme dan eudaimonia. Beberapa literatur membedakan kebahagiaan dengan kesenangan. Kesenangan memerlukan hal – hal yang bersifat material sementara kebahagiaan tidak. Kebahagiaan yang bersumber dari materi bersifat semu sementara yang nyata adalah kebahagiaan jiwa yang tidak terikat dengan benda – benda.  

Psikologi Kebahagiaan

Adalah Bhutan, sebuah kerajaan kecil di Asia Selatan yang diapit negara-negara besar seperti China dan India. Kerajaan yang tidak memiliki wilayah laut ini juga berbatasan dengan Nepal dan Bhangladesh. Pemandangan alam Himalaya Timur nan cantik dan kekayaan budaya membuat Bhutan mampu menarik turis untuk datang berkunjung. Namun bukan hanya itu yang membuat Bhutan istimewa. Negara ini merupakan pelopor dan menjadi satu-satunya negara yang ke mengukur kebahagiaan warganya.

Bhutan mulai mengukur Gross National Happiness Index sejak tahun 1972. Langkah ini memberikan inspirasi untuk mengusung 'kebahagiaan' sebagai sebuah gerakan politik. Puncaknya adalah resolusi PBB yang menjadikan 'kebahagiaan' sebagai agenda pembangunan global. Mengapa kebahagiaan?

Salah satu pemicu munculnya kebutuhan untuk mengukur kebahagiaan adalah kekurangpuasan terhadap indikator makro yang digunakan sebagai tolok ukur kemajuan. Selama ini Gross Domestic Product (GDP) adalah indikator utama kemajuan satu negara. Meski masih digunakan hingga saat ini, indikator GDP dianggap kurang mampu merekam aspek-aspek 'manusia' dalam indikator pembangunan suatu negara. Keresahan ini sebenarnya sudah lama dirasakan dan coba dijawab dengan indikator Human Development Index (HDI) yang mengukur capaian dari aspek kualitas manusia, yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Namun indikator ini pun dirasa kurang karena belum mencakup aspek yang sangat erat dan khas manusia, yaitu aspek emosional yang bersifat subyektif. Paradigma ekonomi yang berbasis pada kebahagiaan dipercaya lebih terjaga secara jangka panjang.

Gerakan yang mengusung 'kebahagiaan' sejatinya menguat dan bersumber dari reformasi dalam psikologi sebagai disiplin ilmu maupun profesi. Pada tahun 2009, Prof Martin Seligman menggagas sebuah temu ilmiah dunia tentang psikologi positif. Psikologi positif menggugat kecenderungan psikologi untuk menjadi 'bengkel' yang fokus pada penanganan masalah - masalah perilaku. Psikologi sebagai ilmu mengenai perilaku manusia laiknya justru merupakan studi saintifik tentang optimalisasi fungsi manusia. Tujuan gerakan psikologi positif adalah menemukan dan mengembangkan faktor-faktor yang mendorong kemajuan, bukan saja untuk tataran individu, tetapi juga komunitas (Seligman & Csikszentzmihalyi, 2000).

Gerakan ini tidak hanya mengubah haluan psikologi dalam teori maupun praktek. Psikologi positif juga menjadi titik awal terbukanya pendekatan psikologi yang lebih multidisiplin bergandengan dengan ekonomi, sosiologi, kebijakan publik, filsafat, pendidikan untuk menyebut beberapa. Konsep yang menjadi perekat antara psikologi dan disiplin ilmu lainnya adalah 'kebahagiaan'.

Tulisan-tulisan dalam blog ini didedikasikan untuk membahas psikologi positif, khususnya konsep kebahagiaan (happiness). Semoga kehadirannya mampu memberikan kebahagiaan bagi pembacanya karena kebahagiaan pula yang menjadi alasan sekaligus tujuan dari penulisnya. Have a good life, eudaimonia...